nah nah, ceritanya ini adalah salah satu aliran yang agak ga tenar di Indonesia. tujuan utamanya baik : mengembalikan Islam kepada kemurnian tauhid dan bebas dari yang namanya bid’ah (ga jauh beda sih sama Muhammadiyyah). tapi ada beberapa yang gw ga suka banget dari orang – orang yang menganut aliran ini
1. suka ngejelek2in orang lain. mereka seneng banget ngomongin orang, kejelekan-kejelekannya. bahkan mereka yang juga memperjuangkan Islam bersama mereka mereka jelek2in, dari mulai para wali songo, abdullah gymanstiar, sampe guru-guru agama di sekolah. masalahnya? mereka bilang si fulan itu penyebar bid’ah lah, ga sesuai syariat lah, dll. gw aja pernah diomongin kok………
2. apatis banget sama lingkungannya. alih-alih memperjuangkan Islam, menangkal kristenisasi yang sedang gencar, atau memberantas kefakiran yang merupakan cikal bakal dari kekafiran, mereka malah memecah belah umat Islam sendiri dengan mengatakan si A sesat, si B sesat, si C bid’ah, dll dsb. akibatnya, malah melemahkan umat Islam itu sendiri, memancing keamarahan, dan berujung kepada permusuhan intern umat Islam. liat dah para nashoro di luar sana…… kompak, satu hati, kalo ada masalah larinya ke gereja, kuat tali silaturahminya. Salafiyyah vs NU? jangan tanya……
3. Tidak mengamalkan salah satu prinsip Islam : kasih sayang dan kepedulian. Suatu saat gw bertanya sama temen gw anak salafiyyah. Woi, yayasan *************** (sensor) pernah ngadain kegiatan kemanusiaan ga? dia bilang :”wah, ga pernah denger gw……..” nah kan. coba Anda liat umat Buddha. walaupun menjadi salah satu agama paling minoritas di Indonesia, Buddha menjadi salah satu agama yang paling memiliki misi sosial melalui salah satu yayasan yang paling gw kenal : Yayasan Tzu Chi. dan hebatnya, sejauh yang gw tau ga ada misi agama di balik misi sosial mereka. mereka banyak membantu kaum-kaum miskin di Indonesia, bahkan dalam scope internasional
4. Sangat fanatik dengan Ustadz dan buku-buku karangan Ustadz mereka. kalo gw bertanya pada mereka tentang suatu masalah, kata-kata yang biasanya mereka ucapkan adalah “menurut ustadz anu…..”. intinya, mereka sangat tidak mengharapkan hadirnya pemikiran-pemikiran ilmiah dalam Islam, sangat linier dan statis(ini yang menyebabkan umat Islam hancur setelah masa kejayaannya di tahun beraaapppaa gitu. yang jelas di pelajarang SMA banyak). hal ini juga menyebabkan seseorang menjadi berperilaku taqlid (istilah untuk “pokoknya ustadz gw yang paling bener”). jika Ustadz mereka bilang jangan baca buku anu karena sesat, maka tidak akan ada pengikutnya yang membaca buku ini. “takut tercemar pemikiran mereka” katanya,,,,,
5. tidak mau dan tidak bisa terintegrasi dengan masyarakat, baik masyarakat ilmiah maupun masyarakat kecil. ada dua masalah kenapa hal ini bisa terjadi. yang pertama, karena mereka tidak boleh menjadikan akal sebagai pola pikir dalam menerjemahkan al quran. jadi, mereka juga menganggap tafsir yang mengatakan bahwa kecepatan cahaya telah ada di alquran tidaklah sah karena tidak dilandaskan pada pemikiran para salafush shalih (istilah untuk menggambarkan para sahabat terdekat rasulullah, keturunannya, dan keturunannya lagi – cuma dua generasi). padahal gitu loh, mereka kan belum ngerti yang namanya kecepatan cahaya. kedua, karena pola pikir mereka ga bisa diterima masyarakat. mereka terlalu egois untuk bisa menyesuaikan diri dengan masyarakat, sehingga bagi mereka, masyarakat kusus yang mendapatkan hidayahlah yang bisa menerima ajaran mereka.
haduh haduh, ada yah manusia Islam kayak gini……..
